Isu Strategis Kab Banjar 2016-2021

Isu Strategis

Dengan memperhatikan Analisis lingkungan strategis eksternal dan internal, isu
strategis daerah Kabupaten Banjar dalam lima tahun (2016-2021) mendatang adalah
sebagai berikut:

(1) Belum optimalnya penyelenggaran pemerintahan dan pelayanan publik

a.    Belum optimalnya layanan pemerintahan terutama dalam memberikan pelayanan publik yang lebih baik, cepat, mudah, murah, dan bermutu;

b.    Belum optimalnya kinerja pelayanan pemerintahan terutama di desa dan kecamatan;

c.    Kurangnya koordinasi, kerjasama dan kemitraan antarperangkat daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mempercepat kemajuan desa dan kecamatan;

d.    Belum optimalnya manajemen data dan informasi dalam seluruh proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program dan kegiatan;

e.    Belum tertatanya manajemen aset daerah;

f.     Belum berkembangnya manajemen pengetahuan sebagai pondasi kemajuan daerah.

(2) Belum optimalnya pengembangan sumber daya manusia

a.    Belum meratanya akses layanan pendidikan yang bermutu disebabkan antara lain oleh kurangnya prasarana dan sarana, terbatasnya jumlah dan mutu tenaga pengajar, serta belum meratanya persebaran tenaga pengajar;

b.    Belum meratanya akses layanan kesehatan yang bermutu sebagai akibat terbatasnya prasarana dan sarana layanan kesehatan, belum meratanya jumlah dan persebaran tenaga kesehatan, serta kurangnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat;

c.    Memudarnya penerapan nilai-nilai budaya daerah dalam kehidupan kemasyarakatan;
d. Belum berkembangnya semangat kewirausahaan di kalangan pemuda dan pemudi;

d.    Rendahnya penguasaan teknologi komunikasi dan informasi yang dipengaruhi oleh terbatasnya jumlah dan mutu sumberdaya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; rendahnya budaya masyarakat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi; dan belum optimalnya sinergi Pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dalam pengembangan teknologi komunikasi dan informasi.


(3) Belum optimalnya pengembangan ekonomi daerah

a.    Belum optimalnya peningkatan produktivitas, nilai tambah dan pendapatan dari pertanian dan perkebunan;

b.    Belum optimalnya peningkatan produktivitas, nilai tambah dan pendapatan dari peterakan dan perikanan;

c.    Belum optimalnya peningkatan produktivitas, nilai tambah dan pendapatan dari pariwisata;

d.    Belum berkembangnya industri pengolahan hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan;

e.    Belum tertatanya manajemen dan kelembagaan BUMD, Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi dalam pengembangan ekonomi daerah;

f.     Belum berkembangnya kegiatan penanaman modal dalam mendukung penguatan usaha masyarakat dan pembangunan ekonomi daerah sebagai akibat adanya hambatan status lahan, belum terciptanya iklim usaha yang kondusif, lemahnya promosi daerah, dan terbatasnya kerjasama antardaerah;

g.    Belum berkembangnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mendukung penguatan usaha masyarakat dan pembangunan ekonomi desa;

h.    Belum optimalnya kerjasama dan kemitraan pemerintah daerah dan swasta dalam pembangunan daerah.

(4) Belum tertatanya infrastruktur daerah

a.    Terbatasnya keterkaitan spasial dan fungsional antara pusat-pusat permukiman dan pusat-pusat pertumbuhan wilayah Kabupaten Banjar;

b.    Belum meratanya pembangunan jalan arteri primer (jalan utama), jalan lingkungan dan arteri sekunder yang menghubungkan antardesa dan antarkecamatan;

c.    Terbatasnya jumlah dan mutu sarana prasarana ketenagalistrikan dan telekomunikasi;

d.    Belum tertatanya jaringan sanitasi dan air bersih.

(5) Belum optimalnya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan

a.    Kurangnya kerjasama dan kemitraan para pemangku kepentingan dalam
pelestarian lingkungan;

b.    Meningkatnya konflik pemanfaatan lahan;

c.    Tingginya pencemaran sungai;

d.    Menurunnya daya dukung lingkungan;

e.    Belum optimalnya mitigasi bencana dan kesiagaan dini dalam menghadapi potensi bencana terutama bencana asap.