Ilustrasi Aset Tidak Berwujud Berupa Software

Software merupakan salah satu yang berpotensi untuk menjadi ATB. Namun harus dipisahkan antara software yang dapat dikategorikan menjadi ATB dan yang tidak. Dalam  suatu  pembelian  peralatan  komputer  misalnya,  terdapat  software sistem operasi  yang  berfungsi  menjalankan  peralatan  komputer  tersebut.  Apabila  peralatan komputer tersebut tidak    dilengkapi dengan sistem operasi ini maka peralatan komputer tidak  dapat menjalankan fungsinya. Untuk  software yang seperti ini bukan merupakan bagian yang terpisah dari peralatan komputer, sehingga tidak dapat dikategorikan ATB.

Apabila dibeli software lain dan dipasang pada komputer di atas, misalnya untuk aplikasi pengolahan data statistik, maka pengeluaran ini diakui sebagai ATB, karena software  ini  terpisah  dari  peralatan  komputer  yang  semula.  Sehingga pengeluaran semacam ini bila memenuhi syarat kapitalisasi harus diakui sebagai ATB.

A.   PENGEMBANGAN SOFTWARE SECARA INTERNAL

Berikut ini adalah contoh pengakuan perolehan software yang melalui pengembangan internal.Pada bulan juli 20X1, Direktorat Jenderal Pajak mengidentifikasi adanya kebutuhan aplikasi komputer baru untuk assessment pajak. Dari bulan Juli sampai Oktober 20X1 tim ini telah melakukan beberapa pekerjaan yaitu:

a.    Menentukan spesifikasi aplikasi komputer baru melalui wawancara kepada operator aplikasi dan pengguna dari informasi yang dihasilkan oleh aplikasi.

b.    Menentukan  spesifikasi  sistem  untuk  aplikasi  baru,  termasuk  menilai kesesuaian antara  aplikasi  yang  telah  ada  dengan  aplikasi  yang  terhubung  misalnya sistem pelaporan keuangan.

c.     Menilai sumber daya teknologi informasi internal yang dipunyai untuk menentukan apakah aplikasi dapat dikembangkan secara internal atau membeli aplikasi komersial.

d.    Menerbitkan  proposal  permintaan untuk  paket aplikasi komersial  dan jasa instalasi dan melaksanakan wawancara dengan pihak penyedia barang.

Berdasarkan rekomendasi dari tim,  maka diadakan pengadaan barang dan jasa untuk pekerjaan pengembangan aplikasi tersebut  dengan nilai kontrak sebesar  Rp 15 Miliar kepada Perusahaan A untuk membeli lisensi aplikasi yang dimiliki perusahaan tersebut  yang akan dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan Ditjen Pajak.  Ditjen Pajak juga menganggarkan untuk tahun 2012 sebesar Rp 16 Miliar untuk belanja aplikasi ini. Instalasi aplikasi dilaksanakan mulai Januari sampai Juli 2012. Pengujian aplikasi dan hasil modifikasi selesai bulan Oktober 2012, dimana pada titik ini dapat dikatakan bahwa aplikasi secara substansi telah selesai dan dapat dioperasionalkan.   Penginputan data  penilaian  pajak  20X3  ke  dalam  aplikasi  serta  pelatihan  kepada  pengguna dan operator  aplikasi  dilakukan  antara  bulan  Oktober  sampai  dengan  Desember    2013, sehingga aplikasi dapat digunakan untuk tahun anggaran 2013. Ditjen  Pajak  menentukan  bahwa   pembiayaan  keseluruhan kegiatan  aplikasi komputer ini adalah sebesar Rp 17,15 Miliar, yang terdiri dari:

a.    Pengeluaran terkait pekerjaan tim dari bulan Juli sampai dengan November 2012 sebesar Rp 1,5 Miliar.

b.    Pengeluaran untuk pembelian aplikasi dan jasa instalasi Rp 14,6 Miliar.

c.     Pengeluaran  honor  dan  biaya  terkait  lainnya  untuk  pegawai  yang  terlibat dalam instalasi dan pengujian aplikasi Rp 0,5 Miliar.

d.    Pengeluaran untuk pelatihan pengguna dan operator aplikasi Rp 0,3 Miliar.

e.    Pengeluaran  honor  dan  biaya  terkait  lainnya  untuk  pegawai  yang  terlibat dalam pemasukkan data penilaian pajak 20X3 Rp 0,25 Miliar.

Dari data-data  di atas, aktifitas yang  dilakukan oleh  tim  harus  dianggap  sebagai tahapan awal kegiatan, dan pengeluaran-pengeluaran yang terkait  harus    diperlakukan sebagai beban  pada  saat  terjadinya.  Sehingga,  untuk  tahun  anggaran yang  berakhir tanggal  31  Desember  2012,  Ditjen  Pajak  akan  mengakui  pengeluaran  yang   terkait dengan kegiatan tim sebesar Rp 1,5 Miliar sebagai beban.

Perolehan  lisensi untuk  penggunaan aplikasi komersial, modifikasi, dan instalasi serta ujicoba yang dilaksanakan tahun 2013 diakui sebagai aktifitas tahap pengembangan  aplikasi.  Pengeluaran  yang  terkait  sebesar  Rp  15,1  Milyar harus dikapitalisasi  dan  diakui  sebagai  ATB  pada  neraca  tahun  2013.  Ditjen  Pajak telah menganggarkan belanja untuk  pengembangan aplikasi tahun 2013 yang menunjukkan bukti komitmen mereka untuk menyelesaikan  kegiatan tersebut. Aktifitas pelatihan yang dilakukan tahun 2013 harus dianggap sebagai tahapan aktifitas setelah implementasi/operasional dan dianggap sebagai beban saat   terjadinya. Begitupun juga dengan pengeluaran yang terkait aktifitas pemasukkan data ke dalam aplikasi  harus  diperlakukan  sebagai  beban  saat  terjadinya.  Dengan  demikian    total pengeluaran sebesar Rp 0,55 Milyar dari kedua aktifitas dimaksud harus dicatat  sebagai beban.

B.   PERPANJANGAN  LISENSI SOFTWARE

Suatu satker pemerintah memperpanjang lisensi pemakaian aplikasi antivirus yang akan segera habis masa pakainya. Perpanjangan lisensi pemakaian antivirus ini untuk masa dua tahun. Oleh karena perolehan perpanjangan lisensi ini lebih dari 12 bulan maka pengeluaran untuk memperolehnya harus dikapitalisasi.